Yonif Linud-305 Kostrad-Tengkorak

 

SEJARAH SATUAN YONIF LINUD-305/TENGKORAK

DIVISI SILIWANGI HIJRAH KE JAWA TENGAH SEBAGAI CIKAL BAKAL LAHIRNYA YONIF LINUD 305

Persetujuan Renville yang tercapai antara Pemerintah Belanda dan Indonesia yang ditandatangani pada tanggal 17 Januari 1948 telah mengharuskan prajurit Divisi Siliwangi hijrah ke Jawa Tengah. Persetujuan ini yang dicapai di masa Kabinet Amir Syarifudin ternyata menimbulkan banyak persoalan di dalam negeri, kemudian Kabinet ini jatuh dan digantikan oleh Kabinet Presidentil yang dipimpin oleh Wakil Presiden RI Drs Mohammad Hatta. Kabinet inilah yang akhirnya harus melaksanakan hasil dari persetujuan Renville yang ternyata merugikan perjuangan Bangsa Indonesia.

Divisi Siliwangi secara langsung harus merasakan akibat dari dikeluarkannya perintah Pemerintah RI untuk meninggalkan daerah kantong kantong perjuangan di Jawa Barat walaupun dalam kenyataannya inisiatif perjuangan sudah mulai dii tangan kita.

Di antara sekian banyak kebijaksanaan yang harus diambil oleh Pemerintah sebagai akibat situasi yang timbul karena adanya persetujuan Renville itu ialah menyempurnakan Angkatan Perang Republik Indonesia, yaitu dengan jalan mengadakan / melaksanakan Rekonstuksi dan Rasionalisasi di dalam tubuh APRI. Tindakan pemerintah ini ternyata menimbulkan tantangan dan gerakan yang menentang kebijakan pemerintah, terutama berhembus dari pihak oposisi yang kemudian mengorganisir dirinya dalam suatu gerakan yang disebut FDR (Front Demokasi Rakyat) yang berintikan Partai Komunis Indonesia (PKI). Sejarah kemudian membuktikan bahwa golongan inilah yang menimbukan kekacauan dan penghianatan yang justru disaat Negara kita tengah terancam oleh bayonet tentara Belanda yang setiap saat mencari kesempatan untuk menghancurkan Republik Indonesia. Dalam situasi yang demikian itu terjadi pula reorganisasi di dalam tubuh Mobiele Batalyon “A” dengan berintikan kekuatan dari Batalyon “A” yang dileburkan ke Batalyon “B” dari Solo dan Batalyon “C” dari Madiun untuk kemudian menjelma menjadi Batalyon I Brigade Siliwangi II KRU (Kesatuan Reserve Umum) “Z” (disingkat KRU”Z”) dimana Pimpinan Batalyon berada ditangan Mayor A.Nasuhi. Batalyon hasil peleburan Batalyon “A”,”B” dan”C” menjadi Batalyon I Brigade Siliwangi III ini kemudian berubah menjadi Btalyon IV Brigade XIV yang diperkuat dengan satu Kompi yang berasal dari Divisi Siliwangi.

Sewaktu di Madiun pecah pemberontakan PKI/Muso pada tanggal 18 September 1948, maka Gubernur Militer Kolonel Gatot Subroto memerintahkan Batalyon I Brigade III/Siliwangi turut pula bertugas dalam penumpasan tersebut bersama sama dengan APRI lainnya dibawah pimpinan Letkol Sadikin, maka bergerak menuju Madiun dengan kekuatan 7 Batalyon yaitu :

1. Batalyon Achmad Wiranata Kusumah dan Batalyon A.Nasuhi bergerak kearah selatan dengan tujuan Ponorogo.

2. Batalyon A.Kosasih dan Batalyon Kemal Idris yang didatangkan dari Jogjakarta bergerak ke daerah utara dengan tujuan Pati.

3. Batalyon Daeng juga bergerak kearah utara dengan tujuan Cepu dan Blora.

4. Batalyon Darsono dan Batalyon Lucas Kustaryo langsung bergerak menuju Madiun.

Batas waktu yang diberikan oleh Gubernur Militer hanya satu minggu agar putra-putra Siliwangi merebut kembali Madiun dan dalam waktu delapan hari ternyata Madiun dapat dikuasai kembali.

PENYEBAB SILIWANGI PULANG KANDANG

Pengalaman Siliwangi tentang perang melawan para penjajah sudah matang, apalagi setelah mendapat godogan oleh pemimpin kita di Markas Besar di Jogjakarta, kemudian penggodogan itu dijadikan garis kebijaksanaan dalam rangka menghadapi kemungkinan agresi Belanda yang berikutnya, yang oleh pemimpin Angkatan Darat dinyatakan pasti akan terjadi pada suatu waktu, walaupun belum diketahui kapan terjadinya.

Pimpinan APRI antara lain Kolonel AH Nasution yang pada waktu itu menjabat sebagai Kepala Staf Operasi MBAP yang sekaligus merangkap sebagai Wakil Panglima Besar dengan seksama menyusun suatu rencana mengenai persiapan ”Aksi Wingate” untuk ke Jawa Barat dan karena berdasarkan pengalaman masa perang kemerdekaan pertama yakni dalam menanggulangi agresi Militer Belanda Pertama dulu, maka disusunlah Rencana Operasi Militer dalam Perintah Siasat No.1 yang kita kenal dengan “Perintah Siasat No.1 “ atau “Perintah Panglima Besar No.1” yang isinya tentang Instruksi Panglima Besar Sudirman tertanggal Jogjakarta 9 Nopember 1948 yaitu antara lain :

a. Tidak lagi menggelar pertahanan linier di dalam menanggulangi agresi militer Belanda.

b. Meniadakan politik bumi hangus.

c. Meniadakan pengungsian yang ditulangpunggungi oleh politik non kompromi sepenuhnya.

d. Pembentukan Wehrkreise wehrkreise sebagai basis perlawanan gerilya dan pemerintahan gerilya.

e. Kesatuan-kesatuan yang telah berhijrah, harus bergerak menyusup kembali ke kedudukannya sebelum dihijrahkan, untuk menyusun wehrkreise wehrkreisenya.

Belum sembuh rasanya luka luka akibat “terror merah” oleh PKI/Muso serta belum lagi putra putra Siliwangi dapat beristirahat dengan leluasa setelah turut aktif menyelamatkan Republik ini dari usaha usaha “setan merah” yang berusaha untuk mendirikan yang mereka namakan negara “Soviet Republik Indonesia”, pihak Belanda kembali melancarkan agresinya yang kedua.

Sekalipun keadaan negeri dalam keadaan gawat, namun pemimpin APRI tetap waspada terhadap musuh utamanya yakni Belanda.

Sementara itu pemimpin RECOMBA yang lama ,Dr H.J Van Mook pada tgl 14 Oktober 1948 digantikan oleh Dr.Beel dengan memakai nama baru yaitu ”Wakil Tinggi Mahkota” (WTM).Maka pihak Belanda dengan tiba tiba pada tgl 19 Desember 1948 melancarkan serangan agresi militernya dengan tiba tiba dalam rangka menciptakan penjajahannya yang kedua, saat itu bom bom pertama dijatuhkan dari pesawat di Jogjakarta . Pada waktu itu juga Panglima Besar Jenderal Sudirman yang masih dalam keadaan sakit, namun sekalipun demikian beliau masih sempat untuk menyampaikan Perintah kilat melalui RRI Jogjakarta

Dengan dikeluarkannya Perintah Kilat tersebut, maka kini pasukan mulai melaksanakan rencana yang telah ditetapkan Kepala Staf Divisi Siliwangi, Letkol Daan Jaja segera menghadap Presiden/Panglima Tertinggi Angkatan Perang Republik Indonesia untuk melaporkan tentang pelaksanaan “Long March” yang akan dilakukan dari Jawa Tengah ke Jawa Barat.

Guna menghadapi persiapan dalam rangka usaha gerakan penyusupan kembali ke Jawa Barat, maka pada pertengahan bulan Desember 1948 pasukan Siliwangi telah dibebaskan dari segala tugas pengamanan di dalam negeri, mulai pada saat itu maung Siliwangi mulai bergerak dari kedudukannya di wilayah Kedu, Surakarta dan Jogjakarta menuju ke kampung halamannya untuk membebaskan diri dari cengkeraman teror penjajah Belanda.

Dengan demikian dimulailah suatu episode baru bagi sejarah Siliwangi dalam Revolusi fisik yang akan dicatat dan akan selalu dikenang sekaligus dengan rasa bangga dan terharu yaitu mengadakan Long March beserta beratus-ratus keluarganya dengan berbagai cara mereka datang menyusul hijrah ke Jogja , kemudian dilanjutkan bergerak kembali Long March ke Jawa Barat.

Pada waktu Divisi Siliwangi Long March dari Jawa tengah ke Jawa Barat, maka susunan Batalyon Nasuhi (Cikal bakal Yonif 305) adalah sebagai berikut :

Danyon : Mayor A. Nasuhi

Kepala Staf : Kapten Murad Idris

Dan Ki I : Letnan Satu Sutikno Slamet

Dan Ki II : Letnan Satu Kaharudin Nasution

Dan Ki III : Letnan Satu A.J Witono

Dan Ki IV : Letnan Satu Mung Parhadimulyo.

Batalyon mulai start dari Temanggung dan Parakan dengan melalui route sebagai berikut : Dengan berjalan kaki mulai dari kretek – Jelegong – Pratin – Guci - Sirampok lalu menyeberang jalan raya ke Bumiayu lalu ke Pangarasan terus kearah selatan menuju Bantarkawung – Salem – Sadahayu – Sadabumi – Rancah . Pada waktu menyeberang terjadilah pertempuran antara Kompi IV/Yon Nasuhi pimpinan Lettu Mung Parhadimulyo dengan pihak Belanda. Pasukan berkumpul di Sukasari Rancah, pada malam harinya terjadi penyerangan oleh fihak Belanda. Menurut rencana Lettu Mung Parhadimulyo melakukan serangan terhadap kedudukan Belanda yang berada di Rancah sedangkan sebagian lagi akan mengadakan serangan terhadap kedudukan Belanda yang ada di Lemah neundeut. Karena ada serangan dadakan dari pihak Belanda, akhirnya serangan ke Rancah gagal waktu Belanda mengarahkan Thomson-nya kepada Kaharudin Nasution. Laras senjata tersebut dapat ditangkisnya namun pelurunya sempat meledak dan mengenai Kapten Harsono Sudiro dan gugur seketika itu juga. Beliau adalah perwira yang diperbantukan.

Sehubungan dengan kejadian tadi, maka pasukan kemudian kembali ke Subang melalui Kotaagung – Jalatrang – Situgede – Pinarah – Cinjasak (Kawali Panawangan), lalu menuju kearah barat menuju Maparah. Kemudian dilanjutkan ke Sukamatri ternyata disitu terdapat Pos Belanda, Pos ini kemudian diserang oleh Kompi IV/Yon Nasuhi sebagaimana dikisahkan sebagai berikut : Waktu diadakan penyelidikan, pasukan Belanda hanya diperkirakan sebanyak satu peleton. Kemudian tanpa diketahui , ada penambahan pasukan dengan didatangkannya bala bantuan, sehingga kekuatan Belanda menjadi 1 Detasemen.

Serangan Kompi Mung Parhadimulyo ini tidaklah menghasilkan sesuatu yang konkrit . Persiapan penghancuran terhadap pasukan Belanda yang diduga akan didatangkan ke Sukamantri dari Panjalu mengalami kegagalan pula, karena pihak Belanda ternyata telah berangkat terlebih dahulu ke Sukamantri sedangkan yang menjadi pokok utama serangan adalah penghancuran terhadap satuan lawan yang ada di Panjalu, yang juga akan memberikan bantuan terhadap Pos Belanda di Sukamantri.

Daerah yang dikuasai oleh Batalyon Nasuhi terbagi menjadi 2 sektor, yaitu sektor utara dan sektor selatan. Sedangkan sektor utara dipimpin oleh Letnan Satu Mung Parhadimulyo dengan kekuatan :

Kompi Mung Parhadimulyo

Kompi Kaharudin Nasution

Kompi dari AURI

Sektor selatan dipimpin oleh Letnan Satu A.J. Witono S. yang terdiri atas:

Kompi III/A.J Witono S.

Kompi I Letnan Dua Ismail Supardi

Kompi Rahmat Slamet

Pada saat itu di Ciamis terdapat sebuah pasukan dibawah pimpinan Rahmat Slamet yang tidak turut hijrah ke Jawa tengah yang bertugas terus menerus melakukan perlawanan baik terhadap Belanda maupun terhadap DI /TII. Pasukan ini kemudian dimasukan ke dalam Batalyon Nasuhi dan dijadikan Kompi dengan Rahmat Slamet sebagai Komandan Kompinya dengan pangkat Letnan Satu.

Sementara itu, Mayor Suwarto Wakil Komandan Brigade XVII menyusul ke Ciamis. Namun karena tidak mempunyai pasukan lagi, maka setelah diadakan perundingan seperlunya, maka Mayor Suwarto bersedia untuk menjadi Kepala Staf Batalyon Nasuhi menggantikan Kapten Murad Idrus yang telah gugur di Sindangbarang. Ini suatu bukti tulus ikhlasnya perjuangan para pejuang kita bukan nafsu atau ambisi yang melandasinya. Terbukti bahwa seorang Mayor (Wadanbrig XVII) turun jabatan menjadi Kepala Staf Batalyon berarti yang dipikirkan saat itu hanyalah perjuangan serta kepentingan corps Siliwangi.

Dalam menghadapi pihak Belanda, maka Mayor Nasuhi tidak segan-segan untuk mendekati pimpinan DI/TII Sukarmaji Marijan Kartosuwiryo guna mengadakan suatu pendekatan dalam menghadapi musuhnya dengan menguasai wilayahnya masing-masing :

Pihak TNI menguasai Citanduy Utara

Pihak DI/TII menguasai Citanduy Selatan.

Kedua belah pihak berusaha menghindarkan terjadinya pertempuran agar dengan demikian segala kekuatan dapat ditumpahkan dalam menghadapi Belanda.

Pihak DI/TII ternyata menolak uluran tangan pihak TNI bahkan kemudian mereka mengajukan tuntutan agar :

“TNI mengakui adanya Negara Islam dan harus tunduk kepada Darul Islam. Para anggota TNI harus taubat.”

Dengan tegas Mayor Nasuhi menolak syarat tersebut. Hal ini ternyata menyebabkan pihak DI/TII mengerahkan pasukannya dalam jumlah yang besar dibawah pimpinan Oni dan Nur Lubis, seorang Komandan Resimen DI/TII dengan maksud akan melucuti Batalyon Nasuhi. Kekuatan DI/TII itu dapat dihalau sehingga mereka kemudian mengundurkan diri dan tidak berani memperlihatkan mukanya lagi. Dalam pertempuran tersebut telah gugur Letnan Dua Joke Kailola seorang Komandan Peleton.

Sementara itu Kompi Dodong yaitu sisa dari Batalyon Sudarman, yang di bawah pimpinan taktis Batalyon Nasuhi, dalam perjalanan pulang ke Jawa Barat telah masuk perangkap DI/TII dan banyak anggotanya yang gugur akibat makan makanan yang telah diracuni DI/TII. Mayor Sudarman sendiri tertawan Belanda di Lakbok sehingga sisa dari Batalyon tersebut tinggal 1 Kompi dipegang oleh Kapten Dodong H. Adapun kisah keracunan itu adalah sebagai berikut :

Daerah tugas Kompi I Batalyon II/Sudarman pada waktu itu adalah di wilayah Langkaplancar, Kompleknya berada di Gunung Kendeng. Bantuan makanan diterima dari anggota anggota DI/TII, Camat, Lurah Desa Pasawahan (Pak Endun) serta Ajengan (Kiyai) Kiara Bandung (Pak Gede) yang telah memproklamasikan bahwa Desa tersebut telah kembali menjadi Desa RI.

Peleton pasukan dibawah pimpinan Letnan Dua Suparman diperbantukan pada Batalyon yang berkedudukan di Cijurey. Pada suatu ketika pimpinan DI/TII yang terdiri dari Camat, Lurah dari DI/TII datang berkunjung ke Kompi I dan menjelaskan bahwa mereka akan menghadiri rapat di Kabupaten Cijurey tanpa menerangkan lebih lanjut tentang tujuan dari rapat tersebut.

Seminggu kemudian mereka datang lagi ke Kompi II dengan membawa rokok dan makanan lainnya sekaligus sebagai pemberitahuan untuk mengundang menghadiri pesta. Maka pada tanggal 17 Pebruari 1949 pihak DI/TII mengadakan pesta besar- besaran dengan mengundang anggota TNI yang ada disitu. Tanpa menaruh prasangka buruk, undangan tersebut diterima dan ternyata yang dihidangkan oleh pihak tuan rumah benar- benar makanan yang lezat dan selesai makan dihidangkan minuman . Selesai minum itulah terjadi malapetaka bagi peleton Letnan Dua Suparman, banyak anggota yang muntah darah dan mengeluarkan kotoran. Melihat situasi tesebut, Wardiman dengan beberapa orang anggota kesehatan segera bertindak untuk mengadakan pertolongan bagi yang terkena racun sehingga dapat terhindar dari jatuhnya korban yang lebih banyak. Ketika anggota kesehatan sedang merawat dan memberikan pertolongan, tiba-tiba DI/TII melakukan serangan mendadak menyebabkan 4 orang prajurit TNI tertawan DI/TII. Kapten Dodong setelah menerima laporan tentang peristiwa keracunan segera bergerak dengan kekuatan 10 orang pada sore harinya.

PENYELAMATAN PANJI SILIWANGI

Kisah penyelamatan Panji Siliwangi merupakan bagian dari sejarah perjuangan Divisi Siliwangi, tepatnya pada pertengahan tahun 1948 Divisi Siliwangi telah menghancurkan PKI di Madiun, Solo, Wonogiri dan Cepu bersama sama dengan Divisi Diponegoro dan Divisi Brawijaya. Selanjutnya Belanda menyerang wilayah RI yang tinggal sebagian kecil di Jawa Tengah, maka Divisi Siliwangi ditugaskan kembali ke Jawa Barat untuk mengadakan perang gerilya. Dalam perjalanannya dari Jawa Tengah ke Jawa Barat pada bulan Desember 1948 Panji Siliwangi yang dibawa oleh Staf Divisi Siliwangi dengan dikawal oleh Batalyon Co Troops di bawah pimpinan Mayor Umar Wirahadikusumah sempat dirampas, saat itu rombongan Staf Divisi Siliwangi memasuki Jawa Barat dari Kecamatan Subang, Kuningan, melalui kampung Sagalaherang naik ke kampung pamulihan Bungurberes, Patala, Jalatrang, Situgede dan sampai di Desa Gunung Aci. Sesudah istirahat semalam, pasukan meneruskan perjalanan menuju Kampung Cipakem, Pinara, Bumi Geulis, Tundagan, Cageur, Ciawitali, Cumenga terus menyeberang sungai Cijolang menyeberang jalan raya di Kampung Gardu sebelah utara Panawangan dan terus ke Desa Cinyasag.

Mengingat situasi perbekalan, maka sesudah sampai di Desa Cinyasag, maka pasukan dipecah menjadi beberapa bagian yaitu di Kampung kampung Cirikip, Cikondang, Pugag dan Cilincing. Rakyat di daerah ini di bawah pimpinan Lurah Sudrajat sangat ramah dan memberi bantuan perbekalan pada pasukan Siliwangi. Mereka telah memberi semangat baru dan ketentraman pada pasukan Siliwangi yang baru tiba melaksanakan gerakan aksi Long March dari Jawa Tengah ke Jawa Barat.

Pada keesokan harinya, pasukan meneruskan perjalanan menuju Desa Rinduwangi / Sindangwangi. Sejak dari desa ini tanggal 25 Januari 1949 pasukan dibagi menjadi dua bagian, hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan mobilitas dan memudahkan perbekalan. Sebagian pasukan dipimpin oleh Mayor Saragih dan Mayor Kresno menuju wilayah Gunung Sawal.

Sebagian lagi dari pasukan dipimpin oleh Kapten Tommy Prawirasuta dan Letda Neman menuju arah Gunung Cakrabuana. Pasukan bergerak melalui kampung kampung Cibubuhan, Johim, Maniis, Sidareja, Cibeureum, Cikeusal, Lampuyang, Ciranca, Cimuncang, Werasari terus melalui jalan hutan ke kampung Selawaai dan Darmaga.

Sungguh suatu hal yang sama sekali tidak diduga sebelumnya. Ternyata selama Pasukan Divisi Siliwangi hijrah ke Jawa Tengah ternyata di Jawa Barat DI/TII tumbuh dan berkembang dengan pesatnya. Bahkan telah berhasil memproklamirkan berdirinya Negara Islam Indonesia (NII) dibawah pimpinan Sukarmaji Marijan Kartosuwiryo. Mereka tidak bersahabat dengan pasukan Siliwangi bahkan memusuhinya dan akhirnya pasukan Siliwangi dijuluki “Tentara Liar” dan ternyata pengaruh DI/TII cukup kuat bagi masyarakat setempat.

Di daerah Ciamis Utara terdapat beberapa daerah yang sudah terpengaruh oleh pihak DI/TII, karena itu mereka menganggap kahadiran pasukan Siliwangi di Jawa Barat mengganggu keleluasaan gerakan mereka, makanya tidaklah mengherankan apabila pihak mereka memusuhi kembalinya Pasukan Divisi Siliwangi ke Jawa Barat. Pengalaman pahit pernah dialami oleh pasukan Staf Divisi Siliwangi dan Pengawalnya di daerah Pasirjaya. Adapun pasukan lain yang telah sampai di daerah ini diantaranya adalah Pasukan Batalyon Nasuhi yang mempunyai daerah tugas di Ciamis bagian utara. Salah satu kompi dari Batalyon Nasuhi, yaitu Kompi IV/ Yon Nasuhi berada di bawah pimpinan Letnan satu Mung Parhadimulyo sempat bertemu dengan Mayor Umar Wirahadikusumah Dan Co Troops di daerah Rinduwangi yang sama sekali tidak mengetahui bahwa Staf Divisi Siliwangi yang dikawalnya membawa Panji Siliwangi di dalam ransel anggota Staf Divisi Siliwangi.

Beberapa orang perwira ada pula yang sampai di Pasirjaya sesudah melewati Sindangbarang. Antara lain Letda Maman dan lettu Wahyu Hagono. Para perwira tersebut bergabung mengawal Panji Siliwangi. Mengingat bahwa di daerah Pasirjaya makanan sulit diperoleh dan tampak pula banyaknya gerombolan pemuda yang mencurigakan, maka Staf Divisi Siliwangi dipindahkan ke Cukang Taneuh sebelah Utara Pasirjaya.

Pada saat itu Panji Siliwangi berada di bawah tanggung jawab Letda Kusnadi, ransel yang berisi Panji Siliwangi itu disimpan dalam satu rumah penduduk selama berada di Pasirjaya. Karena anggota yang ditugaskan mencari perbekalan banyak yang ditangkap oleh gerombolan pemuda dan dianiaya yang ternyata diketahui bahwa mereka adalah gerombolan DI/TII yang melarang penduduk memberi makanan pada TNI.

Rombongan selanjutnya melanjutkan perjalanannya hingga sampai di Guranteng, sedangkan Staf Divisi Siliwangi tetap berada di Pasirjaya dengan dikawal oleh seksi III Co Troops, sementara itu Kompi IV/ Yon Nasuhi yang dipimpin Lettu Mung Parhadimulyo berada di kampung Malausma yang tidak jauh dari Kampung Pasirjaya. Dan pada waktu itu juga Kapten Murad Idrus selaku anggota Staf Divisi Siliwangi juga berada di Kompi IV/ Yon Nasuhi untuk minta pengawalan ke Pasirjaya karena untuk mengambil uang. Akhirnya mereka selamat dan Kapten Murad Idrus langsung ke rumah Letda Neman, ternyata pada waktu itu bukit bukit yang mengelilingi Kampung Pasirjaya sudah diduduki Gerombolan DI/TII mereka berteriak “Allah hu Akbar” dan sebagian sudah di pinggir Kampung Pasirjaya dan langsung menyerang anggota Staf Divisi Siliwangi dan pengawalnya, akibatnya ada yang gugur, tertawan (Kapten Tommy Prawirasuta, Letnan Muda Puspa Lubis, Prajurit Mardi, Kodiran, Katimin dll.) dan ada pula yang berhasil menyelamatkan diri. Sedangkan Kapten Murad Idrus gugur dipotong lehernya.

Pertempuran didaerah Pasirjaya berlangsung hingga sore hari. Setelah lewat magrib Letda Umargono beserta Nawin yang berhasil menyelamatkan diri kemudian kembali ke Malausma untuk bergabung kembali dengan Ki IV/ Yon Nasuhi. Para anggota Staf Divisi dan pengawalnya yang ditawan oleh DI/TII kemudian dibawa ke daerah Antralina dan perbekalan yang dibawa dari Surakarta semua dirampas DI/TII. Pada saat DI/TII sedang asyik memeriksa barang rampasan tiba tiba salah seorang prajurit mengatakan kepada Letnan Muda Puspa Lubis bahwa di salah satu ransel yang dirampas itu terdapat Panji Siliwangi. Dan ternyata rasel yang berisi Panji Siliwangi juga diperiksa, bahkan Panji Siliwangi yang ada dalam ransel sempat dikeluarkan kemudian dibuka dan dikebut kebutkan, karena menganggap barang itu tidak berharga maka Panji Siliwangi itupun dibuang ke tanah, karena DI/TII hanya memerlukan uang, munisi dan senjata.

Pada saat yang bersamaan waktu DI/TII memeriksa barang rampasan, datanglah serangan tembakan meriam dari pihak Belanda ke daerah Antralina dan Pasirjaya. Anggota DI/TII tampak panik dan kalang kabut untuk menyelamatkan diri, maka pada saat itu juga Panji Siliwangi berhasil diambil dan diselamatkan. Letnan Muda Puspa Lubis dengan beberapa orang anggotanya berhasil meloloskan diri dengan membawa ransel yang berisi Panji Siliwangi yang kemudian dipercayakan dibawa oleh Kopral Sumantri, selanjutnya berusaha mencari dan menemui komandan Kompi IV/Yon Nasuhi Lettu Mung Parhadimulyo.

Sementara itu Kompi IV/Yon Nasuhi yang berada di daerah Malausma Sindangbarang meneruskan perjalanannya kearah utara. Pada waktu itu mereka juga mendengar adanya tembakan ketika rombongan sampai di persimpangan jalan yang menuju Burujul. Mereka bertemu dengan rombongan Co Troops dan salah seorang menceritakan peristiwa yang terjadi di Pasirjaya. Selanjutnya rombongan Kompi IV/Yon Nasuhi sampai di kampung Werasari dan istirahat menjelang magrib.

Letnan Muda Puspa Lubis berhasil bertemu Komandan Kompi IV/Yon Nasuhi di Werasari kemudian melaporkan peristiwa yang terjadi di Pasirjaya dan Antralina. Kemudian ransel yang berisikan Panji Siliwangipun diserahkan kepada Komandan Kompi IV/Yon Nasuhi Lettu Mung Parhadimulyo yang kemudian Panji Siliwangi dipindahkan ke dalam ransel Lettu Mung Parhadimulyo sendiri. Kemudian menuju kampung Cantilan (pinggir kali Cijulang) untuk konsolidasi dan menyusun kekuatan teritorial.

Letnan Muda Puspa Lubis beberapa minggu kemudian mendapat tugas baru membantu Batalyon Rukman di daerah Kuningan yang akan mengadakan serangan umum sehubungan dengan kunjungan wali Negara Pasundan ke Kuningan. Sebagai Komandan seksi bantuan terdiri dari satu pucuk mortar 3 inci satu senapan mesin berat 12,7 dan tankbus 2 cm satu pucuk. Dalam serangan umum tersebut Letnan Muda Puspa Lubis mulai menembakan mortar ke kota Kuningan yang pada waktu itu rombongan wali Negara Pasundan sudah berada di Pendopo Kabupaten Kuningan. Sesudah mengadakan tembakan mortar, maka pada malam harinya Letnan Muda Puspa Lubis pergi ke kampung Nusaherang Kecamatan Kadegede Kuningan. Pada suatu malam Belanda (baret hijau) berhasil menyergap Letnan Muda Puspa Lubis dan gugur. Untuk menggantikan pimpinan Seksi/ Ton Mortir, kemudian ditugaskan Letda Umargono sebagai Danton Mo Ki IV/Yon Nasuhi.

Selama Panji Siliwangi berada di Kompi IV tetap dipegang sendiri oleh Lettu Mung Parhadimulyo. Mengingat kejadian pada waktu pertempuran melawan Belanda pada tahun 1946 di dekat Cikalong terkena tembakan tiga kali dan terkapar sendirian kemudian ditinggalkan anggotanya, maka ia mengambil kesimpulan dan berfirasat akan terkena tembak lagi, maka untuk menjaga jangan sampai Panji Siliwangi jatuh lagi ke tangan musuh baik Belanda maupun DI/TII maka dirasa perlu untuk mengamankan Panji Siliwangi pada penduduk yang dapat dipercaya dan kebetulan sekali beliau kenal baik dengan seorang tokoh masyarakat di kampung Cirikip yaitu Bapak Sunahwi, yang kemudian dipercayakan untuk menyimpan Panji Siliwangi tepatnya di kampung Cirikip Desa Cinyasag Kecamatan Panawangan.

Pesan Lettu Mung Parhadimulyo kepada Bapak Sunahwi itu antara lain :

“ Saya percayakan penyimpanan Panji Siliwangi ini kepada Bapak Sunahwi. Apabila dikemudian hari Panji Siliwangi ini sempat hilang, atau jatuh ketangan musuh, maka Bapak Sunahwi sendiri sebagai gantinya”.

Sesudah Panji Siliwangi dititipkan pada Bapak Sunahwi, maka pada tahun 1949 Komandan Kompi IV/ Yon Nasuhi melanjutkan perjalanannya ke daerah Sukamantri Panjalu Panumbangan untuk menghadapi Belanda dan daerah Sindangbarang dan Gunung Sawala untuk menghadapi DI/TII.

Beberapa bulan kemudian Lettu Mung Parhadimulyo menghadap Panglima Divisi Siliwangi Letnan Kolonel Abimanyu di salah satu kampung antara Kuningan dan Cantilan dan ternyata Lettu Mung pangkatnya dinaikan menjadi Kapten.

Setelah Panji Siliwangi berada di tangan Bapak Sunahwi, maka dengan penuh rasa tanggung jawab untuk mengamankan Panji Siliwangi, akhirnya Panji itu disimpan di tempat menyimpanan padi, namun demikian ia merasa was was dan takut serta tidak tenang pikirannya, sebab apabila ada patroli Belanda atau ada serangan musuh dan rumahnya digeledah, maka Panji Siliwangi keselamatannya terancam ditambah lagi dengan berkeliarannya mata mata Belanda dan patroli Belanda berkeliaran di Cirikip.

Tahap berikutnya diusahakan untuk memindahkan penyimpanan Panji Siliwangi di atas para-para (langit langit) rumahnya, tetapi ada kemungkinan rusak dan dimakan tikus sehingga tetap merasa kurang aman. Perasaan gelisah dan was was menyeliputi seluruh jiwa Bapak Sunahwi, hal ini karena ia merasa dipercaya sepenuhnya untuk menjaga Panji Siliwangi itu.

Dalam situasi yang demikian itu ia merenung yang kemudian akhirnya ditemukan akal yaitu Panji Siliwangi akan disimpan saja di pucuk pohon kelapa yang seolah olah sedang menyadap air bunga kelapa dengan demikian maka Panji Siliwangi terjamin keamanannya. Selanjutnya dibuatlah tabung dari bambu (lodong) sebagai wadah Panji Siliwangi, sesudah selesai membuat tabung, maka dengan hati - hati Panji Siliwangi digulung dan dimasukan ke dalam lodong itu dengan ditutup rapat rapat. Dibawanya tabung itu seraya memanjat pohon kelapa kemudian ditempatkannya tabung itu dan dimasukan dalam bunga kelapa seolah olah sedang menampung air bunga kelapa. Akhirnya perasaan aman dan legapun terasa di hati Bapak Sunahwi yang kemudian sekali kali dilihatnya pucuk pohon kelapa itu untuk meyakinkan bahwa benda itu aman tersimpan diatas pohon kelapa.

Sesudah terjadinya gencatan senjata antara Indonesia dan Belanda , maka situasi di daerah Kawali juga menjadi aman demikian pula dengan daerah RI yang lainnya. Oleh karena itu Komandan Kompi IV/ Yon Nasuhi Kapten Mung Parhadimulyo mengutus Letda E. Kosasih datang ke Cirikip untuk menemui Bapak Sunahwi untuk mengambil kembali Panji Siliwangi yang dititipkannya dulu kurang lebih selama tiga bulan.

Dalam upacara HUT ke 4 Siliwangi di lapangan Tegallega Bandung tgl 20 Mei 1950 Panji Siliwangi dibawa dengan dikawal oleh Kompi Pengawal Panji Siliwangi dari Kompi IV/ Yon Nasuhi menjadi Yon Mung Parhadimulyo /Yon C. Sedangkan Letnan Kolonel Nasuhi naik sebagai Komandan Brigade yang melaporkan kepada Panglima Divisi (Kolonel Sadikin) bahwa Panji Siliwangi berada di Brigadenya. Sejak itu Panji Siliwangi dikawal oleh Batalyon C di Kawali yang kemudian menjadi Batalyon 135 di Singaparna akhirnya disempurnakan lagi menjadi Batalyon 305 di Cianjur pada akhir tahun 1950. Sebagai penghargaan atas jasa jasa Bapak Sunahwi, maka dalam rangka HUT Divisi Siliwangi yang ke 11 ia mendapat kehormatan diundang untuk menghadiri upacara peringatan HUT Siliwangi tersebut. Sebagai rasa terimakasih juga atas jasanya, maka Panglima Divisi Siliwangi juga memberikan Piagam Penghargaan dengan nomor : 137/3-B/Dek/III/57, tanggal 20 Mei 1957.

KOSTRAD

KOMANDO CADANGAN STRATEGIS ANGKATAN DARAT

MARKAS KOSTRAD
Jl. Merdeka Timur No.3
Jakarta Pusat
Indonesia